A. Devinisi Status Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, kedudukan (status) dengan kedudukan sosial (sosial status) sering diartikan sendiri-sendiri. Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya. Untuk lebih mudah mendapatkan pengertiannya, kedua istilah tersebut akan dipergunakan dalam arti yang sama dan digambarkan dengan istilah “kedudukan” (status) saja.

Secara abstrak, kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Dengan demikian, seseorang dikatakan mempunyai beberapa kedudukan karena seseorang biasanya ikut serta dalam berbagai pola kehidupan. Pengertian tersebut menunjukkan tempatnya sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh. Kedudukan Tuan A sebagai warga masyarakat merupakan kombinasi dari segenap kedudukannya sebagai guru, kepala sekolah, ketua rukun tetangga, suami nyonya B, ayah anak-anak, dan seterusnya.

Apabila dipisahkan dari individu yang memilikinya, kedudukan hanya merupakan kumpulan hak-hak dan kewajiban karena hak dan kewajiban termaksud hanya dapat terlaksana melalui perantaraan individu, sehingga agak sukar untuk memisahkannya secara tegas dan kaku. Hubungan antara individu dengan kedudukan diibaratkan sebagai hubungan pengemudi mobil dengan tempat atau kedudukan si pengemudi dengan mesin mobil tersebut. Tempat mengemudi dengan segala alat untuk menjalankan mobil adalah alat-alat tetap yang penting untuk menjalankan serta mengendalikan mobil. Pengemudinya dapat diganti dengan orang lain yang mungkin akan dapat menjalankannya secara lebih baik atau bahkan secara lebih buruk.

Menurut Ralph Linton , kedudukan (status) sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Sosial

Individu memiliki kontrol terhadap status yang  mereka capai sepanjang tidak ada pembatasan yang berkaitan dengan status mereka  dan dianggap yang berpotensi menghambat pertumbuhan sosial mereka. Status memainkan peranan penting dalam masyarakat karena dapat menyediakan anggota dengan identitas pasti dan bersatu . Tidak peduli dimana status individu dianggap dapat menempatkan dia dalam hirarki sosial yang masing-masing memiliki satu set peran dan harapan yang secara langsung terkait dengan status masing-masing yang menyediakan identitas sosial. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dalam keluarga kaya memiliki status dianggap tinggi hanya berdasarkan fficial%26channel%3Ds%26prmd%3Divns&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhhS0uooqz38gwP6Z4-ZU7rTt1XCdw">jaringan sosial dan keuntungan ekonomi yang merupakan satu keuntungan dari dilahirkannya seseorang itu dalam keluarga dengan sumber daya lebih dari yang lain.

Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian status sosial di masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah :

a.       Umur

b.      Kekerabatan

c.       Gender

d.      Penampilan

e.       Ras

f.        Kelompok

g.       Kasta

Selain itu, ada 2 faktor yang disebabkan karena anggapan masyarakat  pada saat kelahiran, yaitu :

a.       Anggapan Tertunda – Bila status sosial diberikan pada tahap kehidupan berikutnya.

b.      Fluida anggapan – Bila status dianggap berasal mengarah ke dicapai.

C. Macam – Macam Status

Status pada dasarnya dapat digolongkan menjadi :

1.      Ascribe Status

Kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memerhatikan perbedaan – perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan ini diperoleh karena kelahiran. Misalnya, kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Seseorang warga kasta Brahmana di India memperoleh kedudukan demikian karena orang tuanya tergolong dalam kasta yang bersangkutan. Pada umumnya, ascribed status dijumpai pada masyarakat – masyarakat dengan sistem lapisan tertutup. Misalnya, masyarakat feodal atau masyarakat dimana sistem lapisan tergantung pada perbedaan rasial. Namun demikian, ascribed status tak hanya dijumpai pada masyarakat – masyarakat dengan sistem lapisan yang tertutup. Pada sistem lapisan terbuka mungkin juga ada. Misalnya, kedudukan laki-laki dalam satu keluarga, kedudukannya berbeda dengan kedudukan istri dan anak-anaknya. Ascribed status, walaupun tidak diperoleh atas dasar kelahiran, pada umumnya sang ayah atau suami adalah kepala keluarga batihnya. Untuk menjadi kepala keluarga batih, laki-laki tidak perlu mempunyai darah bangsawan atau menjadi warga suatu kasta tertentu. Emansipasi wanita akhir-akhir ini banyak sekali menghasilkan persamaan dalam bidang pekerjaan dan polotik. Akan tetapi, kedudukan seorang ibu di dalam masyarakat secara relatif tetap berada di bawah kedudukan seorang ayah sebagai kepala rumah tangga.

2.      Achieved Status

Kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha – usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran. Akan tetapi, bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya, setiap orang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi persyaratan tertentu. Terserahlah kepada yang bersangkutan apakah dia mampu menjalani syarat-syarat tersebut. Apabila tidak, tak mungkin kedudukan sebagai hakim tersebut akan tercapai olehnya. Demikian pula setiap orang dapat menjadi guru dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang semuannya tergantung pada usaha-usaha dan kemampuan yang bersangkutan untuk menjalaninya

3.      Assigned Status

Merupakan kedudukan yang diberikan. Assigned status sering mempunyai hubungan yang erat dengan achieved status. Artinya suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Akan tetapi, kadang- kadang kedudukan tersebut diberikan karena seseorang telah lama menduduki suatu kepangkatan tertentu. Misalnya, seorang pegawai negeri seharusnya naik pangkat secara reguler setelah menduduki kepangkatannya yang lama selama jangka waktu tertentu.

D. Akibat yang Ditimbulkan Status Sosial

Kadangkala seseorang/individu dalam masyarakat memiliki dua atau lebih status yang disandangnya secara bersamaan. Apabila status-status yang dimilikinya tersebut berlawanan akan terjadi benturan atau pertentangan. Hal itulah yang menyebabkan timbul apa yang dinamakan Konflik Status. Jadi akibat yang ditimbulkan dari status sosial seseorang adalah timbulnya konflik status.

E. Macam-Macam Konflik Status

a.       Konflik Status bersifat Individual:

Konflik status yang dirasakan seseorang dalam batinnya sendiri.

Contoh:

1.      Seorang wanita harus memilih sebagai wanita karier atau ibu rumah tangga.

2.      Seorang anak harus memilih meneruskan kuliah atau bekerja.

b.      Konflik Status Antar Individu:

Konflik status yang terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain, karena status yang dimilikinya.

Contoh:

1.      Perebutan warisan antara dua anak dalam keluarga

2.      Tono beramtem dengan Tomi gara-gara sepeda motor yang dipinjamnya dari kakak mereka.

c.       Konflik Status Antar Kelompok:

Konflik kedudukan atau status yang terjadi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

Contoh:

1.      Peraturan yang dikeluarkan satu departemen bertentangan dengan peraturan departemen yang lain. DPU (Dinas Pekerjaan Umum) yang punya tanggung jawab terhadap jalan-jalan raya, kadang terjadi konflik dengan PLN (Perusahaan LIstrik Negara) yang melubangi jalan ketika membuat jaringan listrik baru. Pada waktu membuat jaringan baru tersebut, kadangkala pula berkonflik dengan TELKOM karena merusak jaringan telpon dan dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) karena membocorkan pipa air. Keempat Instansi tersebut akan saling berbenturan dalam melaksanakan statusnya masing-masing.